HULU KE HILIR

Transformasi Limbah Organik menjadi Solusi Pertanian Berkelanjutan di Bali

Sampah organik  menyimpan potensi besar untuk diolah menjadi nutrisi kaya yang mendukung kesuburan tanah serta memperkuat sektor pertanian organik di Bali. Namun, potensi besar ini masih terhambat oleh tata kelola sistem pengolahan limbah sampah yang belum maksimal. Dikutip dari Nusa Bali, berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Bali, total timbulan sampah di Bali kini menembus 3.800 ton per hari. Dengan sekitar 70 persen atau lebih dari 2.600 ton di antaranya merupakan sampah organik yang sebagian besar belum teratasi dan terbuang begitu saja. Ketika menumpuk tanpa pengelolaan memadai di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), limbah organik ini mengalami dekomposisi anaerobik yang menjadikannya sebagai penyumbang gas metana (CH4) terbesar dari sektor limbah—sebuah gas rumah kaca yang memicu pemanasan global jauh lebih kuat daripada karbon dioksida. 

Dalam menghadapi krisis lingkungan ini, PT GGM sebagai penyedia jasa pengolahan sampah organik terintegrasi berkomitmen mentransformasi limbah organik menjadi produk bernilai guna tinggi melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular yang komprehensif dari hulu ke hilir. Hasil akhir berupa Biochar, Eliksir serta Humus dengan kandungan nutrisi tinggi, formulasi ini ditujukan untuk merestorasi struktur tanah dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian di Bali secara berkelanjutan dan bebas dari kontaminasi zat kimia sintetis. Bekerjasama dengan Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Wana Sari, kegiatan keberlanjutan ini juga menyentuh aspek sosial-ekonomi masyarakat secara sirkular. GGM telah mendistribusikan sebanyak ± 294 kg bibit buah alpukat dan mangga ke Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang beranggotakan para petani untuk ditanam di rumah bibit yang telah dibangun di area agroforestry Desa Patas, Buleleng. Melalui distribusi bibit buah unggul yang dirawat menggunakan nutrisi berbasis sampah organik, PT GGM secara produktif mendukung penguatan ekonomi kelompok tani setempat. 

Proses Pengolahan

Tahapan Pengolahan Sampah Hingga Menjadi Eliksir, Humus dan Biochar

01

Pengangkutan Sampah

Rutin sebanyak 2-3 kali dalam seminggu, tim GGM melakukan pengangkutan limbah organik dari Pasar Batu Kandik, kota Denpasar. Berkisar sekitar ± 3.300kg/minggu sampah organik diangkut dengan mengutamakan sampah sayur dan buah. 

02

Pencacahan dan Pemeraman Hasil Cacahan

Sampah yang sudah dicacah selanjutnya diproses di dalam wadah tertutup untuk merangsang proses biologis menggunakan metode Pemeraman. Pemeraman hasil cacahan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tong berukuran 200 L yang telah dicampur ragi & molase selama 7 hari.

03

Pemisahan Lindi untuk Menghasilkan Eliksir

Air lindi yang didapat dari proses Pemeraman dimasukkan ke dalam drum 200 L yang telah terpasang airlock selama 14 hari. Dari hasil tersebut, akan didapatkan Pupuk Organik Cair (POC) yang kembali diproses selama 3 bulan didalam drum selimut termal. Setelah 3 bulan, hasil akhir yang didapat dari pengolahan air lindi ini berupa Eliksir, yakni cairan konsentrat pekat yang kaya akan nutrisi dan mikroba pembawa kesuburan bagi tanaman.

04

Pemisahan Ampas Padat untuk Menghasilkan Humus

Ampas padat dari proses Pemeraman dimasukkan ke dalam kolam Pre Kompos (dalam hal ini menggunakan cacing sebagai pengurai) selama 3 hari dengan tujuan untuk mempercepat proses pelunakan sampah organik yang masih bersifat keras. Hasil yang akan didapat dari proses ampas padat ini adalah Humus Kascing, yakni pupuk organik dengan kualitas kaya akan unsur hara hasil dari pencernaan cacing tanah (vermikompos).

05

Ampas Padat untuk Menghasilkan Biochar

Sisa ampas limbah organik padat di press menggunakan alat pressure yang kemudian ditambahkan limbah kayu pantai. Ampas dan kayu tersebut dikeringkan dengan cara pirolisis menggunakan api kompor tungku kedap oksigen yang dipanaskan pada suhu tinggi (300⁰C-600⁰C). Proses tersebut akan menghasilkan arang Biochar kering steril berpori makro yang siap bertindak sebagai wadah penampung mikroba.